Kisah Permaisuri, Alien dan Kodok

Niat belajar yang telah dikumpulkan seketika buyar sesaat setelah gue salah membuka folder kemudian menemukan foto ini:

IMG_0985

Foto yang diambil di akhir tahun 2015, dimana muka-muka ini sungguh terlihat bahagia karena baru selesai melaksanakan ujiannya masing-masing.

Tolong abaikan si mbak berbaju merah yang tengah berpose dengan tolak pinggang bak model majalah Aneka Yess! sebagai latar. Majalah dengan konten ramalan zodiak, dan tentu saja gue tidak percaya. Karena bagi seorang Capricorn, diharuskan untuk tidak percaya pada ramalan-ramalan tersebut.

….

Kami telah mengagendakan beberapa destinasi di Karanganyar, meski pada hakikatnya hanya Candi Ceto dan kebun teh kemuning saja yang di realisasikan.

Perjalanan dimulai dari Kota Surakarta dengan menempuh jarak sejauh kurang lebih 40 kilometer dimana pada seperempat akhir perjalanan melalui medan menanjak tertutup kabut dan dihiasi doa-doa yang dipanjatkan. Mengingat jurang yang menemani dipinggiran dan meragukannya skill sang driver.IMG_0100IMG_0108IMG_0211

 

Udara dingin sehabis hujan mengguyur menyambut kami ketika memasuki altar pertama kompleks candi. Didahului oleh sambutan para petugas loket yang bertugas memunguti retribusi.

Karena letaknya yang berada di kaki Gunung Lawu pada 1400-an mdpl, kami bisa melihat hijaunya perbukitan teh dan ladang pertanian warga lainnya dari kejauhan. Dan mungkin hal ini pula yang membuat struktur candi berbentuk punden berundak dan tetap seperti itu meski beberapa kali mengalami pemugaran.

Selain sebgai objek wisata, candi bercorak Hindu ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar atau penduduk setempat sebagai tempat ziarah maupun tempat pemujaan.

Minimnya papan petunjuk dan ketiadaan guide di kompleks candi, menjadi satu hal yang disayangkan. Praktis, wisatawan hanya sekedar berkeliling dengan sesekali mengabadikan momen tanpa tahu informasi apa yang bisa diperoleh.

Sama halnya dengan kami.IMG_0142IMG_0182IMG_0151

 

Acara foto-foto tersebut sempat tertunda lantaran hujan kembali mengguyur, memaksa kami untuk sejenak berteduh di sebuah pendopo. Momen tersebut juga menjadi satu hal yang cukup istimewa karena telah lama kami tidak bertatap muka dan bercengkrama satu sama lainnya.

Suara rintik hujan, riak genangan air dan hembusan angin memperindah celotehan serta haha-hihi time yang tengah kami jalin. Walaupun gue lebih banyak mendengarkan daripada memberi sumbangsih topik pembicaraan.Ya, seneng aja menikmati suasananya. Seolah memutar memori pada periode beberaapa waktu lalu.

Kala Permaisuri dan Alien tengah konflik tanpa tahu musababnya.

Ehm.

Tapi satu hal yang gue percaya, persahabatan belum sah tanpa adanya pertentangan satu sama lain. Tanpa adanya perbedaan pendapat silih berganti. Tanpa adanya kekurangan tiap pribadi. Yang justru menjadi satu kelebihan dalam menghadapi segala realitasnya.IMG_0279

 

Because less is more.

Sebuah perjalanan yang singkat namun entah bagaimana punya kesan mendalam buat gue. Terserahlah apa kata Anda yang tengah membaca tulisan ini.

Semoga masih ada kesempatan untuk bertemu kalian.

Semoga ada cerita tentang Soerabi Notosjuman yang hampir tutup lagi, tentang bakso pentol yang dijaja di pinggir jalan lagi, tentang soto daging setelah olahraga pagi lagi, apa sajalah.

Semoga kisah ini berlanjut di kemudian hari.

IMG_0987

Kisah tentang Permaisuri, Alien, dan Kodok.

Cheers,

Kodok.

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Permaisuri, Alien dan Kodok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s