Perkara Jodoh dan Mendaki Gunung

Suka atau tidak kepopuleran pendakian gunung dipengaruhi oleh kemunculan sebuah film drama. Sejak itu, hiking menjadi pop culture. Apa lagi tren media sosial menjelma bak sebuah katalis, maka berbondong-bondonglah khalayak berdatangan.

S_5860354947855

Gue adalah yang skeptis jika berbicara tentang pendakian. Apa yang dicari hingga beribu meter berjalan  vertikal kemudian turun lagi, hingga merasakannya sendiri. Ada sesuatu yang sulit dibagi secara verbal. Ada hal lain yang mengundang untuk datang kembali. Entah apa.

Gunung Merbabu adalah pilihan pertama, buah ajakan dari teman-teman di kampus.

Dari situ gue mulai mengenal sleeping bag, tenda, nesting, pasak dan beragam printilan lain. Barang-barang yang belum pernah dijumpai namun harus dilengkapi sebelum memulai pendakian. Persiapan adalah modal utama, ini pelajaran pertama buat gue.

S_5860356189421S_5860354500618

Pada saatnya tiba pendakian, kami semua diberikan briefing singkat, lalu berdoa, dilanjut pemanasan. Tentu setelah melakukan registrasi terlebih dahulu di basecamp. Untuk setengah jam pertama, gue agak kepayahan. Membiasakan kaki berjalan dengan ritme nafas yang harus teratur. Dititik ini pergolakan batin mulai terasa. Sanggup sampai puncak ngga, ya?

By the end of the day, it’s all about mindset. Peran fisik harus ditopang dengan mental yang baik pula. Terus berjalan adalah pilihan.

Rekan pendakian yang fun adalah alasan lain. Mungkin lain cerita bila saat itu bukan mereka.

S_5860355252630S_5860356506191

Dan pada akhirnya semua pengalaman baru tersebut mengerucut pada satu kesimpulan. Mendaki gunung sama halnya dengan jodoh.

Ya, mendaki gunung layaknya jodoh. Segala sesuatunya harus diusahakan. Saat sedang dalam perjalan dari satu pos menuju pos berikutnya, hanya usaha dari dalam diri yang bisa diandalkan. Dorongan dari teman-teman adalah bonus. Masak’ motivasi harus datang dari orang lain, ya toh?

Mendaki gunung layaknya jodoh. Segala sesuatunya berbicara cocok-tidak cocok. Apabila gunung yang pertama kali dipilih bukan Merbabu, mungkin itu adalah yang pertama dan terakhir gue melakukan pendakian.

Mendaki gunung layaknya jodoh. Pahit-manisnya harus dilalui bersama, ngga bisa berhenti ditengah jalan. Jika beruntung langit cerah akan menyapa hingga puncak, namun tak jarang hujan angin setia mengiringi.

Mendaki gunung layaknya jodoh. Peduli setan orang lain mau bilang apa. Jika sudah cinta, apa mau dikata?

 

Cheers,

MM

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s