Perkara Jodoh dan Mendaki Gunung

Suka atau tidak kepopuleran pendakian gunung dipengaruhi oleh kemunculan sebuah film drama. Sejak itu, hiking menjadi pop culture. Apa lagi tren media sosial menjelma bak sebuah katalis, maka berbondong-bondonglah khalayak berdatangan.

S_5860354947855

Gue adalah yang skeptis jika berbicara tentang pendakian. Apa yang dicari hingga beribu meter berjalan  vertikal kemudian turun lagi, hingga merasakannya sendiri. Ada sesuatu yang sulit dibagi secara verbal. Ada hal lain yang mengundang untuk datang kembali. Entah apa.

Gunung Merbabu adalah pilihan pertama, buah ajakan dari teman-teman di kampus.

Dari situ gue mulai mengenal sleeping bag, tenda, nesting, pasak dan beragam printilan lain. Barang-barang yang belum pernah dijumpai namun harus dilengkapi sebelum memulai pendakian. Persiapan adalah modal utama, ini pelajaran pertama buat gue.

S_5860356189421S_5860354500618 Continue reading “Perkara Jodoh dan Mendaki Gunung”

Advertisements

Jangan ke Ijen!

 

s_5663859645077
Gn.Ijen adalah gunung berapi aktif yang terletak antara Bondowoso dengan Banyuwangi.

Jangan ke Ijen, bila tak suka bangun dini hari buta hanya untuk bersiap dari tengah kota dengan lama perjalanan selama kurang lebih satu hingga satu setengah jam menggunakan kendaraan pribadi, karena memang tak ada transportasi umum. Meski jalan yang dilalui cukup mulus dan beraspal namun minimnya fasilitas penerangan serta tebalnya kabut akan menemani hingga basecamp Paltuding.

Jangan ke Ijen, bila tak mau capek untuk trekking selama kurang lebih dua jam menuju puncaknya, ini belum termasuk perjalanan menurun menuju kawah apabila ingin melihat sang primadona: si api biru. Jalur yang dilalui adalah tanah berpasir, sesekali akan berpapasan dengan jalan yang terhalang akibat longsor. Memaksa kita untuk lebih hati-hati dan mengeluarkan energy ekstra. Akan menjadi lebih berat jika guyuran hujan berdatangan, membuat Anda harus merogoh kocek lagi untuk membeli jas hujan.

s_5663861895781s_5663862156414s_5663860843775

Continue reading “Jangan ke Ijen!”

Kebersamaan dalam Pekatnya Kabut Suroloyo

Bersama empat sahabat kala berseragam putih-abuabu gue menerjang pagi sejak pukul tiga demi satu tujuan, matahari terbit di Puncak Suroloyo.

IMG_0803

Puncak Suroloyo merupakan puncak tertinggi di Perbukitan Menoreh, Yogyakarta. Perbukitan setinggi kurang lebih 2000 mdpl ini membentang dari Yogyakarta hingga Jawa Tengah. Dari puncak ini kita dapat melihat Yogyakarta dari atas awan dan bisa melihat kehindahan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Dari kejauhan terhampar areal persawahan berbentuk terasering menghiasi dinding perbukitan, berpadu mesra dengan lembah dan perdesaan. Nampak pula puncak Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Merapi menyembul di balik gumpalan awan.

Tentu semua hal indah diatas dapat kalian nikmati dengan satu syarat: cuaca mendukung. Continue reading “Kebersamaan dalam Pekatnya Kabut Suroloyo”

#VisualJourney : Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Sejak pertama kali berkunjung kesini, gue udah memiliki keinginan untuk bisa balik lagi.

Melihat matahari menyembul, gulungan awan yang menutup desa, lautan pasir dan savana yang menghampar luas, serta lansekap pegunungan tengger. Lalu, jangan lupakan pula suara gemuruh dari deru jeep yang hilir mudik kemudian silih berganti para penunggang kuda yang memeberi tawaran.

Meski pagi itu kelabu, meski sang primadona tengah berselimutkan abu, gue tetap menikmati pengalaman sebulan lalu. Dirimu, Bromo Tengger Semeru.

DSCF6178 Continue reading “#VisualJourney : Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”

Kisah Permaisuri, Alien dan Kodok

Niat belajar yang telah dikumpulkan seketika buyar sesaat setelah gue salah membuka folder kemudian menemukan foto ini:

IMG_0985

Foto yang diambil di akhir tahun 2015, dimana muka-muka ini sungguh terlihat bahagia karena baru selesai melaksanakan ujiannya masing-masing.

Tolong abaikan si mbak berbaju merah yang tengah berpose dengan tolak pinggang bak model majalah Aneka Yess! sebagai latar. Majalah dengan konten ramalan zodiak, dan tentu saja gue tidak percaya. Karena bagi seorang Capricorn, diharuskan untuk tidak percaya pada ramalan-ramalan tersebut.

….

Kami telah mengagendakan beberapa destinasi di Karanganyar, meski pada hakikatnya hanya Candi Ceto dan kebun teh kemuning saja yang di realisasikan.

Perjalanan dimulai dari Kota Surakarta dengan menempuh jarak sejauh kurang lebih 40 kilometer dimana pada seperempat akhir perjalanan melalui medan menanjak tertutup kabut dan dihiasi doa-doa yang dipanjatkan. Mengingat jurang yang menemani dipinggiran dan meragukannya skill sang driver.IMG_0100IMG_0108IMG_0211

 

Udara dingin sehabis hujan mengguyur menyambut kami ketika memasuki altar pertama kompleks candi. Didahului oleh sambutan para petugas loket yang bertugas memunguti retribusi.

Karena letaknya yang berada di kaki Gunung Lawu pada 1400-an mdpl, kami bisa melihat hijaunya perbukitan teh dan ladang pertanian warga lainnya dari kejauhan. Dan mungkin hal ini pula yang membuat struktur candi berbentuk punden berundak dan tetap seperti itu meski beberapa kali mengalami pemugaran.

Selain sebgai objek wisata, candi bercorak Hindu ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar atau penduduk setempat sebagai tempat ziarah maupun tempat pemujaan. Continue reading “Kisah Permaisuri, Alien dan Kodok”

Tentang Karapan Sapi dan Pernak-perniknya

Kebudayaan yang melambangkan kebangaan, kekuatan dan kekerasan orang Madura. Hingga dunia lupa jika orang-orang Madura juga lembut disisi lain.

Kutip gue dari kata-kata Si bray.

DSCF6128

Siang itu beberapa orang telah berkumpul di suatu lapangan rumput yang dikelilingi oleh pagar sederhana. Sebagian dari mereka sibuk menurunkan sapi-sapi yang diangkut pada mini truk. Sebagian lain sibuk berbicara satu sama lain, dan sisanya hanya terpaku tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan. Itu gue yang sebagian sisanya.

Entah angin apa yang membawa diri memutuskan mengisi libur UAS dengan berkunjung ke Pulau dengan luas 5.168 km persegi ini.

Tapi yang jelas, gue saat ini tengah menikmati salah satu kebanggan dari Madura. Karapan sapi.Boom!

DSCF6095DSCF6098DSCF6104

 

Sebelum di mulai, biasanya sapi-sapi tersebut melakukan serangkaian persiapan. Diantaranya adalah penggunaan keleles. Keleles merupakan alat tempat dimana seorang joki akan duduk dan melakukan pijakan. Continue reading “Tentang Karapan Sapi dan Pernak-perniknya”

#VisualJourney : Prau 2565 mdpl

Banyak momen yang enggak bisa diceritakan lewat kata-kata, enggak bisa dicerna dengan baik jika disajikan secara verbal.

Perlu suguhan visual sehingga sesuatu bisa di delivery dengan baik. Entah lewat gambar ataupun video. Bersamaan dengan itu maka lahirlah segmen baru dalam blog ini, yang akan menyajikan gambar-gambar dari perjalanan gue dalam satu destinasi. Biar nggak bosen cerita melulu.Oke?

And please welcome, ma new segment. #VisualJourney, enjoy!

***

Dengan trek yang relatif tidak terlalu sulit untuk pendaki pemula, ketinggian yang tak terlalu tinggi, akses yang mudah untuk kesana namun pemandangan yang di sajikan sungguh memesona.

Bukit teletubbies, bunga daisy dan atraksi utama dari sang mentari dengan latar Sumbing-Sindoro adalah yang ditawarkan. Apabila malam cerah, dengan sedikit keberuntungan, galaksi bima sakti akan terhampar. Such a perfect combination!

DSC00032 Continue reading “#VisualJourney : Prau 2565 mdpl”

Sejenak di Leuwi Baliung

Bogor memang dikenal sebagai kota seribu curug. Salah satu curug yang beberapa waktu lalu di sambangi adalah Leuwi Baliung.

IMG_1754Berbekal arahan dari seorang pedagang yang memberitahukan bahwa ada tempat lagi yang lebih sepi dan jernih airnya, gue antusias untuk pergi kesana. Jalan yang dilalui adalah menyusuri pinggiran aliran air, terus keatas.

Dalam perjalanan yang mengharuskan kita untuk turun mencelupkan kaki karena jalannya terputus lantaran bertemu batuan besar atau malah semak belukar. Jadi ya beneran turun melawan arus sungai.

Minimnya informasi berupa petunjuk arah, membuat akses menuju leuwi baliung ini agak sulit. Bahkan, tak ada seorangpun yang ditemui sepanjang perjalanan. Praktis, hanya modal keyakinan dan pernyataan dari pedagang tadi bahwa, “Kalo udah ketemu gubuk jualan, berarti udah deket mas”. Begitu katanya. Continue reading “Sejenak di Leuwi Baliung”

Snorkeling di Tengah Kota, Siapa Mau Coba?

DCIM107MEDIA

Kegiatan snorkeling dan diving lazimnya yang dilaksanakan ditengah laut bisa kalian lakukan di tengah kota, percaya? Gue juga enggak…….awalnya.

Berhubung bertepatan dengan libur akhir tahun, jarak yang kurang lebih 40 kilometer dari Jogjakarta ditempuh selama hampir dua jam menggunakan mobil. Melewati Jl.Solo-Yogya dengan kondisi padat.

DCIM107MEDIA

 

Kesan pertama masuk ke dalamnya adalah pesimis. Pesimis gue nggak kebagian tempat buat renang melihat geliat wisatawan yang bejibun memadati kolam berukuran 50×25 meter persegi dengan kedalaman 2,5 meter.

Well, there’s no turning back.

Jauh-jauh dari Jogja masa mesti balik lagi hanya karena jiper lihat pengunjung yang mbludak. Kuy lah, yakali gak kuy! Continue reading “Snorkeling di Tengah Kota, Siapa Mau Coba?”

Bermalam di Desa Tertinggi Pulau Jawa

DSC00095

Setelah mendaki Gunung Prau, kami memutuskan marathon menuju Desa Sembungan di kaki Bukit Sikunir dengan maksud melihat sunrise keesokan harinya.

Ketika kami sampai, kabut turun cukup lebat. Keinginan  untuk melihat matahari terbenam bersiluet hamparan bukit kami urungkan. Sayang sekali.

Oleh karena Sikunir tak bisa digunakan untuk mendirikan tenda, maka alternatifnya adalah Telaga Cebong. Memang, rerata mereka yang ingin melihat sunrise bermalam di pinggiran Telaga ini.

DSC00032DSC00096

Usai mengurus registrasi, kami segera berjalan mencari lokasi yang akan digunakan untuk nenda. Udara dingin memaksa kami segera menyelesaikan pekerjaan rumah yaitu mendirikan tenda dan membuat makan malam.

Surya telah berlalu, tanpa permisi kepadaku

Suasana malam di Telaga Cebong begitu sunyi, beberapa warung-warung didekatnya terlihat tutup. Tidak terlihat hilir mudik kendaraan maupun interaksi antar warga. Praktis, hanya kami dan beberapa rombongan tenda lain serta petugas jaga yang ditemui. Continue reading “Bermalam di Desa Tertinggi Pulau Jawa”