Perkara Jodoh dan Mendaki Gunung

Suka atau tidak kepopuleran pendakian gunung dipengaruhi oleh kemunculan sebuah film drama. Sejak itu, hiking menjadi pop culture. Apa lagi tren media sosial menjelma bak sebuah katalis, maka berbondong-bondonglah khalayak berdatangan.

S_5860354947855

Gue adalah yang skeptis jika berbicara tentang pendakian. Apa yang dicari hingga beribu meter berjalan  vertikal kemudian turun lagi, hingga merasakannya sendiri. Ada sesuatu yang sulit dibagi secara verbal. Ada hal lain yang mengundang untuk datang kembali. Entah apa.

Gunung Merbabu adalah pilihan pertama, buah ajakan dari teman-teman di kampus.

Dari situ gue mulai mengenal sleeping bag, tenda, nesting, pasak dan beragam printilan lain. Barang-barang yang belum pernah dijumpai namun harus dilengkapi sebelum memulai pendakian. Persiapan adalah modal utama, ini pelajaran pertama buat gue.

S_5860356189421S_5860354500618 Continue reading “Perkara Jodoh dan Mendaki Gunung”

Advertisements

Sama

“Pesan apa nih?”, tanyanya dengan pasti.

“Samain aja, deh!”, jawab gue tanpa berpikir banyak. Selain karena udah lumayan laper, layout menu yang ditampilkan pada restoran cepat saji ini juga bikin pusing. Pusing untuk bayarnya.

“Minumnya satu kola dan satu teh ya, mas!”, lanjutnya meneruskan pesanan.

Lha kok dia inget? Ingat kalo gue emang ga minum kola dan ia ternyata sadar akan hal itu. Ah, mungkin hanya kebetulan.

Ayam goreng berkulit renyah,  nasi putih yang masih mengepulkan uap panasnya tersaji bersama dengan teh di atas meja yang telah kita sepakati.

“Makan, ya!”, sapa gue ringan. Cukup ia balas dengan senyumnya yang tak simetris untuk kemudian memulai suapan.

Sementara gue baru sedikit mencicip teh tanpa memulai suapan. Mungkin karena masih fokus terhadap apa yang tersaji diatas meja, seseorang yang memesankan sajian diatas meja, maupun lagu dari seorang anak perempuan kecil berambut keriting yang diputar di resto tersebut. Atau combo ketiganya. Continue reading “Sama”